Banyaknya amal yang kita kerjakan akan sia-sia bagai pasir yang terhapus ombak apabila riya' yang menjadi alasannya.
Lelahnya diri dikala terbangun disepertiga malam, laparnya perut disaat siang dan susahnya menahan amarah karna bersabar menjadi dosa yang tertulis dalam kitab amal buruk ketika lagi-lagi riya' yang menjadi patokan.
Riya' sangatlah halus, begitu halus dan lebih halus dari rayapan seekor semut.
***
Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertolak bersama Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu menuju Nabi ﷺ , lalu Beliau ﷺ bersabda: “Wahai Abu Bakar! Sungguh, syirik di tengah kalian itu lebih tersembunyi daripada semut yang merayap.” Lalu Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Bukankah makna syirik adalah kala seseorang menjadikan ada sesembahan lain selain Allâh?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sungguh, syirik itu lebih tersembunyi daripada semut yang merayap. Maukah aku tunjukkan sesuatu kepadamu, yang bila mana engkau mengucapkannya, maka kesyirikan pun akan lenyap darimu, baik syirik yang sedikit (yang kecil) maupun banyak (besar)? Katakanlah:
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
[HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad]
Yang dimaksud syirik yang tidak terlihat diatas adalah perbuatan riya', sum'ah dan 'ujub. Perbuatan buruk diatas tidak bisa dihindari oleh orang yang tidak menyadari kapasitas dirinya. Adapun bila tahu hakikat dirinya, ia akan sadar bahwa semua pujian hanyalah milik Allah ﷻ. [Fadhlullah ash-Shamad 2/394]
***
Maka dari itu lawanlah riya' , jauhi riya' dan berjuanglah membersihkan riya' dalam hati kita.
Disini penulis bukanlah orang yang terbebas dari riya', karna diri juga manusia lemah yang kadang terperosok didalamnya. Namun mari bersama-sama kita melawannya.
"Jangan sampai lelah kita menjadi sia-sia karna semua ibadah yang kita lakukakan menjadikan harapan untuk mendapatkan pujian dari manusia, jangan sampai paketan kita terbuang sia-sia hanya agar kita dipandang sebagai manusia yang bermanfaat oleh manusia, dan jangan pula harta kita habis hanya demi mendapatkan gelar dermawan dari manusia"
Coba kita renungkan, apa untung yang kita dapatkan ketika mendapat pujian dari mereka? Dan apa pula kerugian yang kita dapatkan ketika celaan datang menghantam kita?
Sungguh manusia sangat lemah, tak dapat memberi manfaat dan mudharat bagi kita, celaannya tak dapat merendahkan kita disisi Allah, begitupun pujiannya tak dapat menaikkan derajat kita sedikitpun disisi-Nya.
Wallahu 'Alam Bissowaf.
Komentar
Posting Komentar